Artikel Pendidikan Dasar dan Menengah Seri 2:

Menuntun Zaman Digital:
Menjaga Jiwa Pendidikan di Tengah Arus Teknologi


Ketika Ki Hajar Dewantara berbicara tentang:

“menuntun segala kekuatan kodrat yang ada pada anak-anak agar mereka sebagai manusia dan sebagai anggota masyarakat dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya”
Beliau tentu belum menyaksikan dunia dengan kecerdasan buatan, kelas daring, dan budaya “scroll cepat” seperti sekarang. Namun, nilai yang beliau tanam tetap hidup: pendidikan bukan sekadar transfer ilmu, tetapi penuntunan jiwa.

Teknologi sebagai Sahabat, Bukan Pengganti

Hari ini, kita hidup di zaman ketika pengetahuan bisa diakses dengan satu ketikan. Anak-anak belajar matematika dari video pendek, memahami sejarah dari gim, bahkan menulis puisi dengan bantuan kecerdasan buatan.
Namun, di tengah kemudahan itu, muncul pertanyaan besar: apakah mereka juga belajar menghargai proses, menghormati guru, dan memahami nilai hidup?
Pendidikan modern seharusnya tidak melawan teknologi, tetapi menjinakkannya menjadi alat kemanusiaan. Guru dan orang tua memiliki peran penting untuk menuntun anak agar teknologi menjadi sahabat belajar, bukan penguasa perhatian.

Sebuah Ilustrasi singkat:

Suatu sore di ruang guru yang mulai sepi, seorang guru duduk menatap layar laptopnya. Di layar itu, barisan nama siswa muncul dalam daftar tugas daring. Beberapa sudah mengumpulkan, sebagian masih belum. Ia tersenyum kecil, lalu bergumam pelan, “Zaman memang sudah berubah, tapi tugas guru tetap sama: menuntun.”

Kalimat itu seakan menggemakan kembali pesan lama dari Ki Hajar Dewantara — bahwa mendidik bukanlah sekadar mengajar, tetapi menuntun segala kekuatan kodrat yang ada pada anak. Dulu, menuntun berarti menemani anak-anak berlari di halaman sekolah, membimbing tangan mereka menulis huruf pertama, atau mendengarkan kisah mereka tentang cita-cita. Kini, menuntun berarti hadir melalui layar, membimbing dengan pesan singkat, dan menanamkan nilai di tengah derasnya arus informasi digital.

Anak-anak zaman ini lahir di dunia yang serba cepat. Mereka belajar matematika dari video berdurasi satu menit, mengenal dunia lewat media sosial, dan menemukan jawaban hanya dengan satu klik. Pengetahuan tidak lagi tersembunyi di rak buku; ia bertebaran di udara digital, siap diunduh kapan saja. Tetapi di tengah kelimpahan itu, ada sesuatu yang pelan-pelan menghilang — kesabaran, kepekaan, dan makna dari proses belajar itu sendiri.

Teknologi memang telah membuka pintu yang luar biasa lebar. Ia memudahkan guru menjelaskan konsep yang rumit, membantu siswa menemukan referensi, bahkan mempertemukan murid dengan dunia. Namun, seperti pisau bermata dua, teknologi juga bisa membuat manusia kehilangan arah bila tidak dipegang dengan kebijaksanaan. Maka di sinilah letak pentingnya peran guru dan orang tua — bukan untuk menolak kemajuan, tetapi untuk menjinakkannya. Mereka adalah penuntun agar teknologi menjadi sahabat belajar, bukan penguasa pikiran.

Dalam suasana seperti ini, guru bukan lagi satu-satunya sumber ilmu. Ia telah berubah menjadi penuntun jiwa di tengah kebisingan data. Guru hari ini tidak selalu berada di depan kelas, tetapi hadir dalam percakapan kecil, dalam kalimat penyemangat, atau dalam contoh sederhana tentang bagaimana bersikap bijak. Ia bukan sekadar pengajar, melainkan penjaga makna — seseorang yang memastikan bahwa pengetahuan tidak hanya berhenti di kepala, tetapi juga sampai ke hati.

Namun ada yang sering terlupakan: pendidikan bukan hanya tentang kecepatan menyerap ilmu, melainkan tentang pertumbuhan jiwa yang membutuhkan waktu dan keheningan. Di antara notifikasi yang datang bertubi-tubi dan tugas yang harus dikumpulkan cepat, manusia butuh ruang untuk berhenti sejenak — untuk merenung, mendengarkan, dan memahami dirinya sendiri. Di sanalah pendidikan sejati tumbuh: dalam keheningan yang memberi tempat bagi kesadaran.

Menjadi pendidik di era digital bukan berarti menolak zaman, melainkan belajar menuntunnya. Guru, siswa, dan orang tua berjalan bersama, bukan untuk melawan arus, tetapi untuk memastikan arus itu mengalir menuju arah yang benar — menuju kemanusiaan. Seperti yang diajarkan Ki Hajar Dewantara, tugas pendidik adalah menuntun, bukan menyeret. Artinya, setiap perubahan teknologi harus diiringi nilai yang membuat manusia tetap manusia.

Pada akhirnya, pendidikan selalu tentang hati. Tentang bagaimana kita menjaga agar semangat belajar tidak kehilangan jiwa. Tentang bagaimana anak-anak tetap tumbuh menjadi manusia yang berpikir, berperasaan, dan beriman, meskipun mereka hidup di tengah dunia yang berkecepatan tinggi.

Zaman boleh berubah. Layar boleh menggantikan papan tulis, kecerdasan buatan boleh membantu menjawab soal, tetapi satu hal yang tak boleh hilang adalah sentuhan kemanusiaan dalam proses belajar. Karena di situlah jiwa pendidikan bersemayam — di hati yang menuntun, di akal yang terbuka, dan di nilai yang menegakkan kemanusiaan.

Dan seperti kata guru itu sore tadi, “Zaman boleh melesat, tapi tugas kita tetap: menuntun dengan hati.”

Guru sebagai Penuntun Jiwa Digital

Dalam filosofi Ki Hajar, guru bukan hanya penyampai pelajaran, melainkan “pamong” — penuntun yang berjalan di samping murid, bukan di depan mereka.
Di era digital, peran ini menjadi semakin penting. Guru bukan lagi satu-satunya sumber ilmu, tetapi menjadi penjaga arah dan penata nilai. Ia membantu murid memilah mana informasi yang berguna, mana yang menyesatkan.
Menjadi guru kini berarti juga menjadi kurator makna di tengah banjir data.

Menjaga Hati di Tengah Kecepatan Zaman

Salah satu tantangan terbesar pendidikan saat ini adalah kehilangan kepekaan. Semua serba cepat: belajar, menilai, bahkan bermimpi. Padahal, jiwa manusia tumbuh dalam ketenangan dan keheningan berpikir.
Sekolah, kampus, dan keluarga perlu menciptakan ruang untuk berhenti sejenak—untuk berdialog, mendengarkan, dan merenung. Di situlah hati mendapat tempatnya kembali dalam pendidikan.

Menuntun Zaman, Bukan Terbawa Zaman

Ki Hajar pernah mengingatkan bahwa tugas pendidik adalah menuntun, bukan menyeret. Dalam konteks modern, tugas itu berarti menuntun anak menghadapi dunia digital dengan bijak, bukan membiarkan mereka larut tanpa arah.
Pendidikan sejati tidak menolak perubahan, tetapi menyuntikkan nilai dalam setiap perubahan.


Penutup: Pendidikan yang Berakar dan Bertumbuh

Seri kedua ini mengajak kita merenungkan: bagaimana nilai-nilai Ki Hajar Dewantara tetap relevan di zaman serba digital?
Jawabannya sederhana: selama pendidikan masih memanusiakan manusia, ia akan selalu hidup.
Teknologi boleh berubah, tetapi jiwa pendidikan — akal, hati, dan budi — harus tetap menjadi pusat.

Posting Komentar

0 Komentar