Pendidikan Merdeka dan Pembelajaran Berdiferensiasi dalam Cahaya Pemikiran Ki Hadjar Dewantara dan Harmoni Lentera Bumi
1. Pendahuluan
Pendidikan di Indonesia sedang mengalami transformasi besar melalui penerapan Kurikulum Merdeka, yang menekankan kemerdekaan berpikir, kebebasan berkreasi, serta pengakuan terhadap keunikan setiap peserta didik. Pendekatan pembelajaran berdiferensiasi menjadi salah satu strategi utama untuk mewujudkan semangat tersebut yang bertujuan untuk memberikan ruang bagi setiap anak agar dapat belajar sesuai dengan potensi, minat, dan gaya belajar mereka.
Gerakan Kurikulum Merdeka (KM) merupakan estafet dari visi pendidikan yang lebih dalam, sejalan dengan prinsip-prinsip among Ki Hadjar Dewantara, yang mengedepankan pembentukan individu yang merdeka, berakar pada budi pekerti luhur, dan mampu mencapai self-actualization. Transformasi ini didukung oleh kerangka kebijakan yang diperbarui, termasuk Permendikdasmen Nomor 13 Tahun 2025 dan Nomor 12 Tahun 2025 yang mengatur perubahan kurikulum dan standar isi, menetapkan ruang lingkup materi baru untuk jenjang pendidikan dasar dan menengah. Namun, kesuksesan kebijakan ini tidak terletak pada regulasi semata, melainkan pada kemampuan ekosistem sekolah untuk menumbuhkan proses pembelajaran yang menuntun dan berdiferensiasi.
2. Pendidikan Merdeka dalam Perspektif Ki Hadjar Dewantara
Ki Hadjar Dewantara menolak sistem pendidikan yang menindas kebebasan anak. Ia mengusung konsep “pendidikan yang memerdekakan”, di mana guru berperan sebagai pamong — bukan penguasa. Sistem Among yang beliau gagas berlandaskan pada tiga asas:
- Ing ngarsa sung tuladha (di depan memberi teladan),
- Ing madya mangun karsa (di tengah membangun semangat), dan
- Tut wuri handayani (di belakang memberi dorongan).
Ketiga prinsip ini menuntun guru untuk menghargai keunikan anak dan memberi ruang bagi mereka tumbuh secara alami. Inilah dasar filosofis dari pembelajaran berdiferensiasi: guru bukan lagi pusat pengetahuan, melainkan fasilitator yang menuntun kodrat anak sesuai dengan kodrat alam dan kodrat zaman.
Dalam "Cahaya Pemikiran Ki Hadjar Dewantara," tugas pendidik adalah menuntun sesuai kodrat alam dan kodrat zaman siswa. Inilah fondasi dari Pembelajaran Berdiferensiasi. Pendidikan saat ini harus melampaui hard skills akademik, karena riset menunjukkan bahwa soft skills bertanggung jawab sebesar 85% hingga 90% bagi kesuksesan karir atau pendidikan seseorang. Oleh karena itu, KM bertujuan menggeser fokus pendidikan dari sekadar transmisi pengetahuan menjadi pengembangan potensi peserta didik secara utuh, memastikan setiap siswa menerima perlakuan dan materi yang relevan dengan kebutuhan belajarnya.
Dengan demikian, Pendidikan Merdeka merupakan implementasi modern dari cita-cita Ki Hadjar Dewantara, yaitu membentuk manusia yang merdeka lahir dan batin — bebas berpikir, berkreasi, dan berperilaku dengan tanggung jawab sosial dan moral. Kurikulum Merdeka (KM) di Sekolah Dasar (SD) secara filosofis ditujukan untuk menciptakan proses pembelajaran yang relevan dan mendalam, yang berfokus pada pengembangan potensi peserta didik. Keberhasilan implementasi KM, seperti yang terlihat pada opsi Kurikulum Mandiri Belajar di beberapa sekolah, sangat bergantung pada dukungan ekosistem yang komprehensif, melibatkan pemerintah, dewan guru, dan orang tua.
Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5) adalah komponen krusial KM yang berfungsi sebagai kendaraan utama untuk diferensiasi karakter. P5 didefinisikan sebagai kegiatan kokurikuler berbasis proyek yang dirancang untuk menguatkan kompetensi dan karakter sesuai Profil Pelajar Pancasila.Pendekatan berbasis proyek ini memungkinkan siswa belajar secara kontekstual, aktif, dan kolaboratif, berinteraksi dengan isu-isu nyata, seperti tema Kewirausahaan di jenjang SMP. P5 adalah implementasi nyata dari pendidikan yang tidak hanya mendukung aspek akademik, tetapi juga aspek karakter, yang merupakan landasan bagi pembentukan generasi berintegritas.
Pelaksanaan P5 menuntut kompetensi pedagogik yang tinggi dari guru. Namun, kendala konseptual muncul karena sebagian guru belum sepenuhnya memahami tahapan pelaksanaan P5. Selain itu, bagi peserta didik dengan hambatan intelektual, proyek harus disajikan secara aplikatif dalam kegiatan sehari-hari, mengingat hambatan mereka dalam berpikir abstrak.
Tantangan utama yang dihadapi dalam mewujudkan diferensiasi yang sejati adalah kesiapan guru dan dukungan sekolah yang belum optimal. Ini mencakup pemahaman konsep kurikulum baru dan kemampuan adaptasi metodologi, yang menuntut guru untuk bertindak sebagai penuntun, bukan hanya pengajar. Masalah kualitas guru menjadi titik kegagalan kritis. Untungnya, program seperti Guru Penggerak (PGP) telah terbukti memberikan dampak positif dalam membangun budaya sekolah yang kondusif dan menerapkan pembelajaran berdiferensiasi. PGP adalah kunci untuk menciptakan guru-guru yang mampu menjadi Ing Ngarsa Sung Tuladha (menjadi teladan) di depan, sejalan dengan ajaran Ki Hadjar Dewantara.
3. Pembelajaran Berdiferensiasi sebagai Wujud Tuntunan Kodrat Anak
Pembelajaran berdiferensiasi menuntut guru memahami setiap siswa sebagai individu unik yang memiliki kesiapan belajar, minat, dan profil berbeda. Pendekatan ini sejalan dengan filosofi Ki Hadjar Dewantara tentang “menuntun anak sesuai kodratnya”.
Guru tidak lagi menyeragamkan metode dan penilaian, tetapi menyesuaikannya agar setiap anak mendapatkan kesempatan terbaik untuk berkembang. Dalam praktiknya, ini dapat diwujudkan melalui:
- Penyesuaian konten sesuai tingkat kesiapan siswa,
- Variasi proses belajar berdasarkan gaya belajar,
- Ragam produk atau hasil belajar yang mencerminkan kreativitas individu.
Pembelajaran berdiferensiasi menuntut guru untuk menyesuaikan tidak hanya metode, tetapi juga kedalaman materi. Kemampuan literasi dan numerasi adalah keahlian mendasar untuk menghadapi Abad ke-21. Mengingat hasil tes PISA tahun 2018 menunjukkan skor kemampuan membaca siswa Indonesia berada di peringkat 72 dari 78 negara , Asesmen Nasional (AN) dan Asesmen Kompetensi Minimum (AKM) diperkenalkan. AKM berfokus pada pengukuran Literasi Membaca dan Numerasi. Bentuk soal AKM merupakan adaptasi dari soal PISA, menekankan pada kemampuan berpikir tingkat tinggi (HOTS) yang disajikan melalui masalah kontekstual.
Melalui pendekatan ini, siswa tidak hanya belajar untuk mengejar nilai, tetapi menemukan makna, kemandirian, dan tanggung jawab dalam belajar. Hal ini menumbuhkan rasa percaya diri dan keutuhan pribadi sebagaimana diidealkan oleh Ki Hadjar Dewantara.
- Project Based Learning (PjBL): Model ini memotivasi peserta didik agar mandiri, meningkatkan critical thinking, dan mengimplementasikannya dalam proyek nyata, sesuai dengan masalah faktual yang otentik.
- Pendekatan STEAM: Pendekatan Science, Technology, Engineering, Art, & Math (STEAM) sangat efektif untuk mengembangkan keterampilan Abad ke-21. Khususnya, komponen seni (Art) dalam STEAM berperan membuat konsep Matematika dan IPA yang abstrak menjadi lebih konkret dan mudah dipahami siswa.
Era digital menuntut integrasi Computational Thinking (CT) yang mencakup dekomposisi dan berpikir algoritmik. Pemerintah telah mengumumkan rencana strategis untuk mengintegrasikan AI literacy ke dalam kurikulum sekolah dasar hingga menengah. Bahkan, Kurikulum Merdeka telah menekankan pentingnya penguasaan CT sejak jenjang SD.
Salah satu janji terbesar AI dalam pendidikan adalah personalisasi pembelajaran. Teknologi pembelajaran adaptif berbasis deep learning dapat meningkatkan efektivitas pendidikan. Personalization ini dapat diwujudkan dengan menyampaikan materi yang disesuaikan dengan gaya belajar siswa (misalnya, diagram untuk siswa visual atau teks-ke-suara untuk siswa auditori).
Meskipun inovasi ini menjanjikan, tantangan berat muncul: digital divide. Sistem pembelajaran adaptif berbasis deep learning memerlukan perangkat teknologi dan koneksi internet yang memadai. Kurangnya akses ini menciptakan jurang pemisah digital yang serius, berpotensi memperburuk kesenjangan pendidikan yang sudah ada. Studi implementasi di SD menemukan tantangan teknis berupa keterbatasan akses ke perangkat dan akun edukasi, yang memaksa guru menggunakan strategi kolaboratif. Selain masalah akses, pemanfaatan teknologi canggih juga memunculkan isu penting mengenai privasi dan keamanan data siswa yang harus diatur secara ketat.
4. Harmoni Lentera Bumi: Menyemai Nilai Kemanusiaan dan Keberlanjutan
Konsep Harmoni Lentera Bumi dapat dimaknai sebagai integrasi antara pendidikan dan kesadaran ekologis — sebuah upaya untuk menumbuhkan generasi yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga arif terhadap alam dan kehidupan. "Harmoni Lentera Bumi" mencerminkan tujuan pendidikan untuk menumbuhkan individu yang utuh (holistik), seimbang dengan lingkungan sosial, dan berakar pada identitasnya. Ini terwujud melalui fokus pada kesejahteraan mental dan inklusivitas.
- Proyek berbasis lingkungan, yang mengajarkan empati dan tanggung jawab terhadap bumi,
- Pembelajaran kontekstual, yang menghubungkan materi pelajaran dengan realitas sosial dan alam sekitar,
- Kegiatan reflektif, yang menumbuhkan kesadaran spiritual dan nilai-nilai kebersamaan.
Dengan demikian, pendidikan menjadi sarana membangun keseimbangan — antara kebebasan individu dan harmoni kolektif, antara kemajuan teknologi dan kelestarian alam. Lentera Bumi di sini melambangkan cahaya kebijaksanaan yang menuntun manusia agar tetap berpijak pada nilai-nilai kemanusiaan dalam menghadapi perubahan zaman.
Kesehatan mental remaja merupakan isu yang mendesak, ditandai dengan tekanan ekspektasi tinggi dan perbandingan sosial di media yang dapat meningkatkan risiko kecemasan dan depresi. Tanda-tanda gangguan dapat berupa kesulitan mengendalikan emosi atau menarik diri dari lingkungan sosial.
Menanggapi krisis ini, paradigma Sekolah Ramah Mental (SRM) muncul, menekankan bahwa keberhasilan siswa harus diukur secara holistik, mencakup kesejahteraan mental selain pencapaian akademik. SRM diidealkan sebagai lingkungan yang aman, yang beralih dari fokus nilai semata ke pengasuhan generasi yang resilien mental dan emosional.
Sayangnya, implementasi SRM terhambat oleh defisit sumber daya manusia yang parah. Laporan Kemendikbud pada 2023 menunjukkan bahwa hanya terdapat sekitar 25.000 Guru BK untuk lebih dari 280.000 sekolah secara nasional, atau rata-rata hanya satu Guru BK untuk setiap 11 sekolah. Rasio timpang ini merusak upaya dukungan psikologis individu, menunjukkan bahwa dukungan mental belum dianggap sebagai infrastruktur pendidikan yang krusial.
Prinsip diferensiasi secara fundamental menuntut pemerataan pendidikan melalui pendidikan inklusif. Peraturan perundang-undangan, seperti Peraturan Pemerintah Nomor 13 Tahun 2020 dan Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2016, mewajibkan penyediaan akomodasi yang layak bagi peserta didik penyandang disabilitas. Kurikulum Merdeka juga mengatur muatan materi khusus bagi murid berkebutuhan khusus, seperti materi orientasi dan mobilitas serta sistem simbol braille untuk disabilitas netra.
Kebijakan muatan lokal berperan penting dalam mengkonkretkan pembentukan karakter, mewujudkan diferensiasi kontekstual. Pendidikan Khas Kejogjaan (PKJ) di Daerah Istimewa Yogyakarta, misalnya, bertujuan membantu siswa tetap dekat dengan akar budayanya sendiri dan merealisasikan nilai-nilai luhur (seperti kejujuran ) dalam perilaku sehari-hari.
PKJ dapat diimplementasikan sebagai materi ajar tersendiri (monolitik) atau melalui pengembangan budaya satuan pendidikan. Pendekatan ini menawarkan model yang otentik dan kontekstual untuk mencapai dimensi karakter Profil Pelajar Pancasila, memastikan siswa tumbuh dengan keluhuran budi pekerti sambil tetap menghadapi tantangan zaman.
5. Penutup
Pendidikan Merdeka dan Pembelajaran Berdiferensiasi bukanlah sekadar strategi pedagogis modern, melainkan wujud nyata dari cita-cita pendidikan Ki Hadjar Dewantara: pendidikan yang menuntun, bukan memaksa; membebaskan, bukan menyeragamkan. Transformasi pendidikan dasar dan menengah di bawah Kurikulum Merdeka adalah upaya ambisius untuk mengembalikan roh pendidikan pada nilai-nilai Ki Hadjar Dewantara: menuntun, memerdekakan, dan menghargai keunikan individu.
Dengan menambahkan nilai-nilai Harmoni Lentera Bumi, pendidikan menjadi lebih holistik — menyeimbangkan kebebasan belajar dengan kesadaran ekologis dan sosial. Inilah arah baru pendidikan Indonesia: membentuk manusia yang merdeka, berkarakter, dan selaras dengan alam — sebuah perwujudan nyata dari pendidikan yang menuntun hidup tumbuhnya anak-anak kita dalam keseimbangan dengan kodrat alam dan zaman.
Mari tumbuh bersama dalam harmoni pendidikan yang memerdekakan.
Berlangganan Harmoni Lentera Bumi untuk mendapatkan inspirasi, artikel terbaru, dan informasi event pendidikan berkelanjutan langsung ke email Anda.

0 Komentar