Hari ini aku kembali merenungkan tentang anak-anak kelas 2 dan 3 di sekolah impianku, Harmoni Lentera Bumi. Mereka sudah bukan lagi anak-anak kecil yang hanya suka bermain, tapi juga mulai penasaran dengan dunia di sekelilingnya. Aku ingin kurikulum ini bisa menjadi jembatan antara rasa ingin tahu mereka dengan keindahan alam dan dunia digital yang mereka hadapi.
Setiap pagi, aku membayangkan mereka datang dengan wajah ceria. Senin aku isi dengan kegiatan membaca cerita, menulis jurnal kecil, dan kadang mencoba menyalin kembali kalimat di layar tablet mereka. Aku ingin literasi digital menjadi sahabat sejak dini, bukan sekadar hiburan. Ada saatnya kami duduk di kebun, membaca buku sambil mendengarkan suara angin.
Hari Selasa terasa lebih hidup dengan matematika. Aku tak ingin mereka takut angka. Aku ajak mereka menghitung biji-bijian, mengukur tinggi tanaman, atau membandingkan panjang ranting. Dari situ mereka belajar bahwa angka itu nyata, hadir di alam, dan bisa dipahami dengan senyum, bukan rasa cemas.
Rabu selalu aku siapkan untuk eksperimen kecil. Ada kalanya kami menaruh air di gelas lalu menjemurnya, menunggu ia menguap. Kadang kami mencari semut, mengamati bagaimana mereka berbaris. Anak-anak selalu takjub, dan aku ikut belajar bahwa rasa kagum adalah energi belajar yang sesungguhnya.
Kamis biasanya penuh warna. Aku biarkan mereka berkreasi, melukis dengan cat air atau membuat poster digital dengan aplikasi sederhana. Aku selalu suka melihat mata mereka berbinar saat gambar yang mereka buat di kertas bisa hadir kembali di layar tablet. Seni, bagi mereka, adalah ruang bebas untuk bercerita.
Jumat aku ingin menjadi hari refleksi. Kami berkumpul di luar ruangan, duduk di atas tikar, berbagi cerita kecil tentang apa yang mereka alami minggu ini. Kadang ada yang bercerita tentang bunga yang layu, kadang tentang kucing yang mereka beri makan. Dari cerita-cerita sederhana itu, aku percaya karakter baik akan tumbuh: peduli, berbagi, dan mensyukuri.
Proyek besar yang selalu aku nantikan adalah Kebunku Hidup. Anak-anak menanam sayur mereka sendiri, memotret pertumbuhan tiap minggu, lalu menuliskannya di jurnal. Aku merasa ini adalah pelajaran yang lebih nyata dibanding ratusan halaman buku. Mereka belajar sabar, merawat, dan menghargai proses.
Aku pun tak sabar menanti ketika mereka menghidupkan kembali cerita rakyat. Dengan kata-kata polos mereka, cerita lama terasa baru. Mereka menggambar tokohnya, lalu memasukkan hasil karya itu ke aplikasi, hingga jadilah dongeng digital versi anak-anak Harmoni Lentera Bumi.
Setiap kali aku menutup minggu, aku merasa kurikulum ini bukan hanya soal mata pelajaran. Ini tentang perjalanan. Perjalanan anak-anak mengenal dirinya, lingkungannya, dan teknologi yang kelak akan menjadi bagian dari hidup mereka. Aku hanya berharap, ketika kelak mereka tumbuh dewasa, mereka akan mengenang masa-masa ini sebagai saat di mana mereka belajar bukan hanya dengan pikiran, tapi juga dengan hati.
.png)
0 Komentar